Senin, 11 Juni 2012

Teori Hirarki


TEORI BELAJAR HIRARKI DARI
ROBBERT MILS GAGNE
  1. Biografi Robbert M Gagne
Robert Mils Gagne lahir 21 Agustus 1916 di North Andover, Massachusetts. Beliau adalah seorang pendidik Amerika yang yang studi pembelajaran dan pengajaranya sangat mempengaruhi sekolah-sekolah di Amerika. Beliau meraih gelar A.B. dari Yale pada tahun 1937 dan Ph.D dari Brown University tahun 1940. Beliau adalah profesor psikologi dan pendidikan psikologi di Connecticut College khusus wanita (1940-1949), Universisitas Negeri Pennsylavania (1945-1946), Princeton (1958-1962), dan Universitas California di Barkeley (1966-1969). Pada tahun 1969, beliau mulai menjadi seorang profesor di departemen Educational Research di Universitas Negeri Florida, Thalllahassee. beliau juga menjabat sebagai direktur riset untuk angkatan udara (1949-1958) di Lackland, Texas, dan Lowry, Colorado. Bekerja sebagai konsultan untuk  Deparemen Pertahanan (1958-1961) dan untuk kantor pendidikan di Amerika Serikat (1964-1965). Selain itu ia menjabat sebagai Direktur penelitian Institut Penelitian Amerika di Pittsburgh (1962-1965).

Hasil kerja Gagne mempunyai pengaruh yang besar pada pendidikan Amerika, militer dan pelatihan industri. Gagne dan L.J. Briggs keduanya merupaka pengembang awal dari konsep desain sistem intruksional yang menunjukkan bahwa semua komponen dari pelajaran atau periode instruksi dapat dianalisis dan bahwasemua komponen dapat dirancang untuk beroprasi bersama-sama sebagai sebuah rencana terpadu untuk instruksi. Dalam sebuah artikel yang berjudul “ Teknologi Pendidikan dan Proses Pembelajaran” (peneliti pendidikan, 1974). [1]
Gagne juga terkenal dengan teorinya yang canggih “stimulus-respon” dari delapan jenis belajar yang berbeda, dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Diantaranya ialah: 1) signal learning, 2) stimulus-respon, 3) chaining, 4) verbal association, 5) discrimination, 6) concept learning, 7)rule learning, 8) problem solving.

Gagne berpendapat bahwa banyak ketrampilan dapat dianalisis ke dalam hirarki pelaku, yang disebut hirarki belajar. Seorang instruktur akan mengembangkan hirarki belajar sesuatu untuk diajarkan dengan menyatakan ketrampilan yang harus dipelajari sebagai perilaku tertentu dan kemudian bertanya dan menjawab pertanyaan “apa yang harus anda ketahui, tentang bagaimana melakukan sesuatu dalam rangka untuk melakukan tugas, yang hanya diberikan sebuah petunjuk?”. Gagne menguji konsep pembelajaran hirarki dalam studi, terutama menggunakan ketrampilan aritmatika sederhana. Temuanya cenderung untuk mendukung gagasan hirarki balajar dan menunjukkan bahwa individu tdak hui ketrampilan dapat mengetahi ketrampilan yang lebih tinggi, tanpa mengethui ktrampilan yang rendah sebelumya.
Pendekatan gagne untuk pembelajaran dan intruksi, terutama pendekatan sistem desain instruksional, kadang-kadang dikritik sebagai pendekatan yang paling tepat untuk tujuan penguasaan ketrampilan belajar, informasi, dan intelektual, tetapi kurang cocok untuk strategi kognitif. Tidak diragukan lagi, karya gagne memiliki dampak besar pada pemikiran dan teori-teori di kalangan pendidikan. Teori hirarkinya merupakan langkah prasyarat dalm belajar yang memikiki banyak implikasi untuk urutan instruksi.
Dibidang bahsa Inggris misalnya, memungkinkan guru untuk memecahkan kemampuan bahsa Inggris ke dalam komponen sederhana dan untuk mengajarkan komponen dalam urutan yang teratut, memperkuat jawaban yang benar di sepanjang jalan.[2]
  1. Bentuk Belajar Menurut Robbert M Gagne
Komponen-komponen dalam proses belajar dapat digambarkan sebagai S---R, S adalah situasi yang memberi stimulus, R adalah respon atas stimulus itu, dan garis diantaranya adalah hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi dalam diri seseorang yang tidak dapat kita amati, yang bertalian dengan sistem alat syaraf di mana terjadi transformasi perangsang yang diterima melalui alat indra. Stimulus itu merupakan input yang berada di luar individu, dan respon adalah outputnya, yamg juga di luar individu sebagai hasil belajar yang dapat diamati. Pelambangan proses belajar sebagai S----R tidak berarti bahwa proses belajar ini merupakan satu variasi dari teori S---R menurut Thorndike atau Skinner.[3]
Robert M Gagne mencoba melihat berbagai macam teori belajar dalam satu kebulatan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurut Gagne belajar mempunyai delapan tipe, kedelapan tipeitu bertingkat, ada hirarki dalam masing-masing tipe. Setiap tipe merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasanya.
Tipe belajar yang dikemukakan oleh Gagne pada hakikatnya merupakan prinsip umum baik dalam belajar maupun mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa belajar pun terdapat tingkatan sebagaimana tingkatan belajar tersebut di atas. Kedelapan tipe itu ialah[4]:
1)      Signal learning (belajar isyarat).
Belajar isyarat mirip dengan conditoned respons atau respons bersyarat seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tak berbicara. Menutup mulut dengan telunjuk merupakan isyarat, sedangkan diam adalah respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat jadi respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur, dan emosional. Menurut Kimble (1961) bentuk belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.[5]
2)      Stimulus response learninag (belajar stimulus response).
Anjing dapat diajar ‘memberi salam’ dengan mengangkat kaki depanya bila kita katakan “kasi tangan” atau “salam”, adalah bentuk suatu hubungan S---R. Respons itu dapat diatur dan dikuasai, jadi berlainan dengan belajar tipe 1. Respons bersifat empirik, jadi tidak umum dan kabur. Respons itu diperkuat dengan adanya imbalan atau reward, sering gerakan motoris merupakan komponen penting dalam respons itu. Belajar dengan menggunakan tipe ini, seseorang belajar mengucap kata dalam bahasa asing. Demikian pula seorang bayi belajar mengatakan “mama”.
3)      Chaining (rantai atau rangkaian).
Dalam bahasa kita benyak terdapat contoh “chaining” seperti ibu-bapak, “kampung halaman”, “selamat tinggal”, dan sebagainya. Juga dalam perbuatan kita banyak terdapat “chaining” ini misalnya pulang dari kantor, ganti baju, makan minum. Hal ini terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S—R, oleh sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi, jadi berdasarkan “contiguity”.[6]
4)      Verbal assosiation (asosiasi verbal).
Suatu kalimat “piramida itu berbangun limas” adalah contoh asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa piramida berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk bila unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.
5)      Discrimination learning (belajar diskriminasi).
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Contoh: guru mengenal murid serta nama masing-masing murid karena mampu mengadakan diskriminasi di antara murid-murid itu. Diskriminasi tersebut berdasarkan “chain”.
6)      Concept learning (belajar konsep).
Konsep merupakan simbol berfikir, hal ini diperoleh dari hasil membuat tafsiran terhadap fakta atau realita, dan hubungan antara berbagai fakta. Dengan konsep dapat digolongkan binatang bertulang belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas), seperti kelas mamalia, reptilia, amphibia, Burung dan ikan. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi bila orang dapat melakukan diskriminasi.[7]
7)      Rule learning (belajar aturan).
Tipe belajar ini banyak terdapat dalam pelajaran di sekolah. Banyak aturan yang harus diketahui oleh setiap peserta didik, aturan ini terdapat dalam tiap mata pelajaran. Misalnya bemda yang dipanaskan akan memuai, tiap warga negara harus setia pada negaranya, dan sebagainya. Mengenal aturan tanpa memahaminya hanya akan menunjukkan cara belajar-mengajar yang salah.[8]
8)      Problem solving (memecahkan masalah).
Memecahkan masalah adalah biasa dalam kehidupan, ini memerlukan pemikiran. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai aturan yang relevan dengan masalah itu. Dalam memecahkan masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat, adakalanya lama. Juga sering kali harus didahului berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam masalah itu, mencari hubunganya dengan aturan (rule) tertentu. Dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan cara tiba-tiba (insight). Dengan ulangan masalah-masalah yang tidak terpecahkan; dan apa yang dipecahkan sendiri- yang penyelesaianya ditemukan sendiri- lebih mantap dan dapat ditransfer kepada sesuatu atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.[9]
Menurut pendapat saya, tipe-tipe belajar di atas, sangat membantu bagi seorang guru yang ingin membuat langkah-langkah yang mengarah kepada penguasaan bahan materi pelajaran pada setiap proses belajar mengajar. Dengan memahami relevansi antara setiap tipe di atas ia dapat membuat sebuah bahan ajar yang teratur, terkonsep dari yang paling sederhana sampai ketingkat selanjutnya. Dan dengan analisis pada langkah-langkah tersebut akan tercipta semacam “peta” tentang hal-hal yang diperlukan, serta lebih mengerti jalan mana yang akan ditempuh agar para peserta didik dapat memahami pelajaran dengan mudah.


[3] Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajardan Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 136
[4] Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,), hal. 25
[5] Ibid, hal. 26
[6] Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajardan Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 137
[7] Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,), hal. 26
[8] Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajardan Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 139
[9] Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,), hal. 27

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar